Articles Comments

Edukasi Islam » Perbedaan Cara Menentukan Awal Ramadhan » Perbedaan dalam Penetapan Awal Ramadhan

Perbedaan dalam Penetapan Awal Ramadhan

Din Syamsudin

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin mengharapkan agar seluruh pihak dapat menghargai perbedaan penetapan awal mula Ramadhan.

Lebih jauh lagi, Din meminta agar pemerintah tidak perlu ikut campur apalagi memanasi suasana. Hal itu disampaikan Din seusai mengikuti acara silaturahim dengan sejumlah tokoh masyarakat bersama KASAD TNI AD Jenderal TNI Moeldoko di Balai Kartini, Jakarta, Senin (8/07).

“Seharusnya, pemerintah jangan ikut campur. Wilayah keyakinan apakah shalat tarawih 8 atau 20 (rakaat) enggak usah diatur oleh negara. Insya Allah masyarakat sudah dewasa untuk berbeda pendapat,” tukas Din.

Pada kesempatan itu, Din juga menanggapi pernyataan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar di stasiun televisi swasta yang sebelumnya mengatakan bahwa terkait penetapan awal puasa, umat Islam harus tunduk pada ketetapan yang diputuskan pemerintah atau ulil amri.

Din menyesalkan Nasaruddin berucap seperti itu di media massa. Menurut Din, Indonesia bukan dibangun berdasarkan negara agama. Sebab itu, perbedaan pendapat harus dihargai sebagaimana yang tercantum dalam konstitusi negara.

“Jadi, biarlah ini menjadi pemikiran masing-masing sesuai dengan konstitusi kita bahwa negara punya kebebasan menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya. Itu yang harus dihargai oleh pejabat tinggi Kementerian Agama dan tidak boleh bersikap inkonstitusional,” tukas Din menanggapi perbedaan penetapan awal Ramadhan antara Muhammadiyah dengan pemerintah.

Sebagaimana diketahui, warga Muhammadiyah memutuskan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan pada esok hari, Selasa 9 Juli 2013 atau 1 Ramadhan 1434 Hijriah. Keputusan itu didasari oleh pandangan wujudul hilal. Versi Muhammadiyah posisi bumi dan bulan sudah berada di garis bujur yang sama (ijtimak). Kondisi itu terjadi pada Senin (8/07) pukul 14.15.55 WIB dengan ketinggian bulan pada 00.44’59 di Yogjakarta. Dengan kata lain, saat terbenamnya Matahari, hilal sudah mewujud. Artinya, 1 Ramadhan 1434 jatuh pada Selasa (9/07).

Pemerintah sendiri telah memutuskan awal puasa Ramadhan jatuh pada Rabu 10 Juli 2013 mendatang. Hal itu diputuskan pada sidang Isbat di Kementerian Agama pada Selasa (9/07) setelah metode ru’yah di beberapa daerah memperlihatkan bahwa ketinggian bulan masih dibawah minus 2 derajat. (ali)

1 Ramadan Beda, Idulfitri Bersamaan

Penentuan 1 Ramadan tahun ini bakal tidak serentak lagi. Muhammadiyah sudah menetapkan 1 Ramadan Selasa, 9 Juli. Sementara pemerintah kemungkinan menetapkan 1 Ramadan, Rabu, 10 Juli. Meski begitu perayaan idulfitri diperkirakan akan bersamaan 8 Juli.

Senin malam ini, warga Muhammadiyah sudah melakukan salat tarawih. Sejumlah masjid di Makassar sudah melakukan persiapan untuk pelaksanaan tarawih pertama ramadan tahun ini.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel, KH Alwi Uddin, mengatakan, keputusan tersebut telah dikeluarkan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Mei lalu. “Keputusan Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan pada 9 Juli berdasarkan perhitungan hisab hakiki. SK PP Muhammadiyah sudah sangat jelas tentang hal tersebut,” katanya, Minggu, 7 Juli, malam tadi.

Alwi mengatakan masalah keyakinan, terutama tentang penetapan jatuhnya 1 Ramadan, bukan wilayah birokrasi. “Itu merupakan persoalan keyakinan, bukan masalah pemerintah. Bahkan dalam SK Kemenag sudah jelas menuliskan bahwa metode penentuan 1 Ramadan itu berdasarkan hisab dan rukyat. Artinya apa, keduanya mesti diakomodasiu. Bagi yang ingin mengikuti metode hisab dipersilakan. Demikian pula yang mengikuti metode rukyat juga disilakan sesuai dengan keyakinannya,” ujarnya.

Ia juga berharap pemerintah bersikap adil atas persoalan tersebut. “Ini agar pemerintah tidak terkesan diskriminatif dalam menetapkan 1 Ramadan. “Mestinya kan keduanya diakomodir. Dulu, tahun-tahun 1980-an dan 1990-an keduanya diumumkan bersamaan. Baik hisab, maupun rukyat keduanya diumumkan,” jelas dia.

Masjid-masjid Muhammadiyah, kata dia, akan tetap melakukan salat tarawih pada Senin malam, 8 Juli, jika pun keputusan pemerintah berbeda dengan keputusan tarjih Muhammadiyah. Meski demikian, Alwi Uddin mewakili warga Muhammadiyah berharap agar perbedaan ini bisa dimaklumi dan persaudaraan sesama umat tetap dijaga.

Hal senada juga disampaikan ketua umum Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Makassar, KH Jalaluddin Sanusi. Menurutnya, perbedaan khilafiyah sudah sering terjadi sejak zaman Rasululllah Muhammad saw. Meski ada perbedaan, kata dia, umat Islam mesti tetap menjaga persatuan dan persaudaraan.

Dalam maklumat PP Muhammadiyah tertanggal 23 Mei 2013, dengan 04/MLM/I.0/E/2013 telah diumumkan dan diterangkan jatuhnya 1 Ramadan, 1 Syawal, 1 Zulhijjah, hari arafah, dan Iduladha. Maklumat tersebut menyebutkan bahwa pada saat matahari terbenam Senin, 8 Juli, di sebagian wilayah barat Indonesia hilal sudah wujud dan di sebagian wilayah timur Indonesia belum wujud. Dengan demikian, garis batas wujudul hilal melewati wilayah Indonesia dan membagi wilayah Indonesia menjadi dua bagian.

Kementerian Agama Republik Indonesia secara resmi akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan 1 Ramadan sebagai awal pelaksanaan ibadah puasa, Senin, 8 Juli sore ini. Menteri Agama, Suryadharma Ali menjelaskan, pihaknya sudah mendatangkan sejumlah organisasi Islam untuk mendengarkan laporan terkait perhitungan atau rukyat di berbagai tempat. Hasil laporan tersebut, kemudian dicocokkan dengan metode hisab atau perhitungan. Dari situlah pemerintah akan memutuskan kapan jatuhnya 1 Ramadhan.

“Memang sudah ada yang umumkan bulan puasa 1 Ramadhan 9 Juli. Tapi pemerintah belum putuskan, setelah sidang isbat baru ditentukan,” katanya Minggu kemarin.

Selain itu akan dilakukan juga pemantuan, jika pada malam itu tim pemantau rukyat dapat melihat hilal atau bulan, berarti pemerintah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 9 Juli. Sebaliknya jika tidak melihat hilal, berarti 1 Ramadan dimulai pada 10 Juli. Sidang isbat ini diikuti oleh anggota Badan Hisab dan Rukyat (BHR). Dalam sidang isbat pemerintah mengacu pada dua pertimbangan, yakni pertimbangan hisab (perhitungan) dan pertimbangan rukyat (pengamatan bulan).

Dalam pertimbangan hisab atau perhitungan, sudah bisa diprediksi 1 Ramadan jatuh pada Selasa 9 Juli. Ormas Muhammadiyah, yang selama ini menggunakan pertimbangan hisab untuk menentukan kalender Islam, termasuk 1 Ramadan dan 1 Syawal, sudah menetapkan awal puasa jatuh pada 9 Juli mendatang.

Ia menegaskan, sidang isbat yang digelar pemerintah tidak hanya menetapkan 1 Ramadhan berdasarkan hisab, tetapi juga rukyat. Jadi pemerintah belum menetapkan 1 Ramadhan sebelum hasil sidang isbat keluar. “Besok tim rukyat akan disebar oleh seluruh kantor wilayah (kanwil) Kemenag di seluruh provinsi di Indonesia,” jelasnya.

Jika nanti 1 Ramadan digelar berbeda di Indonesia, Suryadharma berharap, masyarakat bisa menjaga persatuan atau ukhuwah. Kepada para tokoh-tokoh agama, diminta untuk menyambut Ramadhan dengan penuh khidmat dan dengan rasa persatuan. “Meski nantinya ada perbedaan, diminta untuk saling menghormati,” tandasnya.

Untuk menentukan awal bulan ramadan tahun ini, Observatorium Bosscha Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menurut rencana akan melakukan pengamatan hilal (penampakan awal bulan), Senin ini.

Menutur Kepala Observatorium Bosscha, Mahasenaputra. Pengamatan ini dilakukan atas permintaan Kementrian Agama terkait penentuan awal bulan puasa. Namun, bila tidak diminta pun sebenarnya pada setiap tahun menjelang puasa, pihaknya selalu melakukan pemantauan terkait penentuan awal ramadhan ini.

“Setiap tahun kami selalu menyelenggarakan pengamatan hilal, begitupun dengan penentuan awal bulan ramadhan 1434 H ini kami akan menyelenggarakan pengamatan pada senin esok (hari ini, red),” kata Mahasenaputra kepada wartawan kemarin.

Dijelaskan Mahasenaputra, pengamatan hilal di Boscha akan dimulai sejak pukul 17.00 WIB. Rencananya, ditempat ini akan diselenggarakan pengamatan hilal sebanyak dua kali. Untuk pengamatan yang kedua akan dilakukan pada keesokan harinya, yakni Selasa (8/7).

Selain di Observatorium Boscha, pengamatan hilal pun akan dilakukan di lima titik lainnya, yaitu Kabupaten Pangkalan Madura, Makassar, Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB), Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Lampung. Dienam titik tersebut, akan ditempatkan petugas dari Boscha agar penentuan awal ramadhan bisa dilakukan tepat. Tidak hanya petugas dari Boscha, kata dia, pihaknya pun melibatkan beberapa dosen dan mahasiswa dari jurusan Astronomi ITB.

“Kami akan menempatkan sebanyak dua orang untuk mendampingi peneliti Bosscha berasal dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang akan melakukan streaming dan seorang lagi merupakan utusan dari Kementerian Agama yang memahami soal ru’yatul hilal,” jelasnya.

Setelah pemantauan di enam titik selesai dilakukan, lanjut dia, semua tim akan melaporkan hasil pemantauan tersebut kepada Kementerian Agama pasalnya pada Senin malam akan dilakukan sidang isbat, yang isi sidangnya mengenai penentuan awal bulan Ramadhan. Meski penentuan awal Ramadan pada setiap tahunnya selalu ditentukan oleh sidang isbat, tapi pengamatan hilal ini kerap dilakukan oleh para ahli astronomi, ulama falak, dan ilmuwan dari ormas Islam yang dikoordinasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), bekerjasama dengan Observatorium Bosscha-FMIPA ITB, LAPAN, BMKG, Kemenag, PT Telkom dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. (sam-jpnn)

Written by

Filed under: Perbedaan Cara Menentukan Awal Ramadhan · Tags:

Leave a Reply

%d bloggers like this: