Pendidikan dalam Idealitas Pemaknaan

Pendidikan bukanlah soal main-main, pendidikan merupakan upaya yang serius untuk melestarikan nilai-nilai kehidupan, baik dalam lingkup pribadi, keluarga, maupun masyarakat.  Pendidikan seharusnya dimaknai secara utuh, pendidikan tidak hanya dilihat dari satu sudut pandang saja, tetapi mesti harus dirumuskan secara holistik. Belakangan ini, pendidikan kita lebih banyak terarah pada kepentingan-kepentingan tertentu, lebih banyak melayani pasar ketimbang membangun kehidupan. Keberhasilan-keberhasilan  pendidikan di negara kita sampai saat ini masih menggunakan ukuran dengan penilain kuantitatif,  ukuran-ukuran angka, seperti lulus 100% adalah merupakan suatu keberhasilan.

Dalam membahas apa yang dimaksud “pandidikan dalam idealitas pemaknaan” perlu dijelaskan terlebih dahulu apa itu “idealitas, dan apa itu pemaknaan”.

Idealitas adalah sebuah gagasan, konsep, ide-ide dasar, atau cita-cita yang diyakini sebagai harapan yang terbaik walaupun terkesan sangat utopis, dan terkadang terasa sangat melangit, berbeda dengan realistis, yang dimaknai sebagai sesuatu yang nyata, yang nampak saat ini.  Jadi, jika idealitas adalah gambaran masa depan, maka realistis adalah kejadiaan saat ini. Apakah kita ingin menjadi orang yang idealis atau realistis itu adalah sebuah pilihan. Dengan demikian sejauh yang penulis pahami bahwa yang dimaksud dengan “pendidikan dalam idealitas pemaknaan“ adalah membahas tentang gagasan, konsep, atau kerangka berpikir tentang makna  pendidikan dengan pendekatan tiga demensi yaitu dimensi idealitas, realitas, dan fleksibilitas.

Mari kita  melihat filosofi yang diajarkan bapak pendidikan Ki Hajar Dewantoro, yaitu: “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.

1. Ing Ngarsa Sung Tuladha artinya di depan kita harus memberikan contoh yang baik. Ing Ngarsa berarti di depan dan Sung Tuladha  berarti memberikan contoh atau suri teladan.

Dengan demikian bahwa pendidikan itu harus memberikan contoh yang baik. Misalnya, berkaitan dengan kepribadian dan budi pekerti. Kita tidak mungkin meminta anak didik untuk berbudi pekerti dan memiliki kepribadian yang baik kalau para pelaku tidak memberikan contoh nyata yang langsung ditemui anak didik di sekolah maupun di masyarakat.

2. “Ing Madya Mangun Karsa” “Ing Madya” artinya di tengah dan “Mangun Karsa“ artinya memberikan bimbingan.

Bahwa ketika di tengah,  kita harus bisa memberikan bimbingan. Bimbingan ini harus selalu menempel dan menyertai anak didik kita. Pendidik atau guru tidak hanya memiliki tugas mengajar, tetapi juga melekat  tugas melatih dan mendidik.

3. “Tut Wuri Handayani“, “Tut Wuri” artinya di belakang dan “Handayani” artinya memberikan dorongan.

Jadi, kita harus senantiasa memberikan dorongan dan dukungan dalam setiap langkah peserta didik untuk berbakti kepada bangsa dan negara.

Pendidikan harus memberikan pandangan yang utuh dan komprehentif atas filosofi tersebut, yaitu “di depan memberikan contoh, di tengah memberikan bimbingan, dan di belakang memberikan dorongan atau dukungan”. bukan membuat galau pendidikan di negeri ini dengan berbagai dalih demi kemajuan.

Pendididkan dalam satu batasan  tertentu akan terdapat bermacam-macam pengertian, karena masih banyak para pakar pendidikan yang berbeda pendapat dan pandangan, hal tersebut disebabkan oleh latar belakang pendidikan dari ahli pendidikan itu sendiri  dan kondisi pendidikan yang diperbincangkan saat itu, yang kesemuanya itu memiliki perbedaan karakter dan permasalahannya.

Pendidikan diartikan sebagai usaha yang dilakukan dengan penuh kesadaran, terencana dan bertahap dalam meningkatkan potensi diri peserta didik  menuju terbentuknya kepribadian yang beriman, bertakwa, berilmu, dan berakhlak mulia. Singkatnya menjadi insan kamil.

Dengan demikian pendidikan dalam idealitas pemaknaan berdasarkan konsep pendidikan yang tercantum di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, nampaknya selaras  dengan Tujuan Pendidikan Nasional yang tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendididkan Nasional yaitu, bahwa “pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab”.

Daftar Pustaka:

Bawani, Imam (1987) Segi-Segi Pendidikan Islam. Surabaya: Al-Ikhlas

Gandhi, Teguh Wangsa (2011) Filsafat Pendidikan Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan. Jogjakarkat: Ar-Ruzz Media

Hasbullah (1997) Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Syahidin (2009) Menelusuri Metode Pendidikan Dalam Al-Qur’an. Bandung: Alfabeta

Tafsir,  Ahmad (1992) Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Rsdakarya

http://www.kompasiana.com/medianmihsan/konsep-pendidikan-islam

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *