Articles Comments

EDUKASI ISLAM » Iman Kepada Kitab Allah » Meyakini Adanya Kitab-Kitab Allah

Meyakini Adanya Kitab-Kitab Allah

Meyakini atau beriman kepada kitab-kitab Allah merupakan salah satu bagian dari rukun Iman yang enam, yaitu merupakan rukun iman yang ketiga dari susunan keimanan yang ada dalam Islam. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadis Nabi SAW :

Artinya :

Iman itu ialah engkau percaya adanya Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau percaya adanya takdir baik atau buruk dari Nya. (H.R. Muslim).

Iman kepada kitab-kitab Allah, berarti tidak hanya beriman kepada adanya Al-qur’an saja. Tetapi juga beriman kepada segala kitab yang diturunkan dalam semua masa serta yang diturunkan kepada tiap-tiap umat.

Menurut ajaran Al-qur’an bahwa tiap-tiap umat, dimanapun ia berada dimuka bumi ini, kepada umat itu diturunkan kitab (wahyu). Karena itu orang Islam harus percaya adanya kitab-kitab Allah selain daripada Al-qur’an.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengertian Iman kepada kitab-kitab Allah adalah mempercayai dan meyakini terhadap adanya kitab-kitab Allah yang berisi firman –firman-Nya untuk dijadikan pedoman hidup dalam mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat.

Beriman kepada kitab-kitab Allah ini sebagaimana disebutkan dalam Al-qur’an surat Annisa : 136:

Artinya :

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, Malaikat-Nya, kitab-Nya, Rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (Q.S. An-Nisak : 136).

Dari ayat tersebut dapat dikatakan bahwa setiap orang yang mengaku dirinya sebagai orang mukmin, maka wajib mengimani adanya kitab-kitab Allah, berarti sama pula dengan mengingkari kepada Allah itu sendiri. Dengan demikian sangat berat akibatnya bagi seseorang yang mengingkari adanya kitab-kitab Allah yaitu akan berakibat kepada kekufuran. Sebab itulah kita wajib beriman kepada kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.

Disini perlu ditegaskan bahwa iman kepada kitab-kitab Allah dahulu (sebelum Al-qur’an) hanya berarti, kita wajib meyakini bahwa sebelum Al-qur’an, Allah sudah pernah menurunkan kitab-kitab kepada Rasul dan Nabi-Nya, iman yang tidak mengharuskan kita untuk mengikuti dan patuh terhadap perundang-undangan. Sebab perundangan kitab suci yang dahulu itu telah mansukh (terhapus), yakni telah digantikan dengan perundangan Al-qur’an.

Jadi kesimpulannya adalah bahwa yang wajib kita imani dan wajib kita ikuti saat ini yaitu hanya Al-qur’an saja sebagai satu-satunya kitab suci dan perundangan Allah SWT, dan inilah jalan keselamatan yang sesungguhnya.

Apa saja Nama-Nama Kitab Allah itu?

               Macam-macam kitab Allah itu tidak pernah disebutkan jumlah angkanya dalam Al-qur’an. Dan nama-nama kitab Allah yang sampai kepada kita juga terbatas. Kita hanya mengetahui yang tersebut dalam Al-qur’an dan yang diceritakan oleh Nabi SAW.

Rasul-rasul yang menerima kitab-kitab Allah itu adalah manusia-manusia pilihan Allah diantara kelompok-kelompok manusia yang memiliki ciri khas dan karakteristik dalam segi-segi rohaniah dan jasmaniah.

Adapun nama-nama kitab Allah yang diturunkan kepada para Rasul adalah sebagai berikut :

1.   Kitab Taurat

Kitab Taurat ini diwahyukan Allah kepada Nabi Musa as di bukit Turisina. Peristiwa diturunkannya kitab taurat ini disebutkan dalam Al-qur’an surat At-Tin ayat 2 yaitu :

Artinya :

Dan demi bukit Sinai (Q.S. At-Tin : 2)

Kitab taurat didalamnya terdapat beberapa syariat dan hukum agama yang sesuai dengan tempat dan kondisi pada masa itu. Dan misi utama dari kitab Taurat sebelumnya adalah sebagai petunjuk dan cahaya yang dapat menerangi kepada umat manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-qur’an suat Al-Maidah ayat 44 :

Artinya :

Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi). (Q.S. Al-Maidah : 44).

Adapun isi kitab Taurat mengandung sepuluh hukum Tuhan yang dikenal dengan sebutan The Ten Commandment (sepuluh firman Tuhan) yaitu :

a.   Larangan mempunyai Tuhan selain Allah.

b.   Larangan mempersekutukan Allah.

c.   Larangan bersumpah palsu dengan menyebut nama Allah.

d.   Larangan mensucikan Allah pada hari Sabat (Sabtu).

e.   Larangan membunuh.

f.    Larangan berzina.

g.   Larangan mencuri.

h.   Larangan menjadi saksi palsu.

i.    Larangan mengambil hak orang lain.

j.    Larangan durhaka kepada ibu bapak.

2.   Kitab Zabur

Kitab Zabur ini diwahyukan Allah kepada Nabi Daud as. Hal ini disebutkan dalam Al-qur’an surat Al-Isra’ ayat 55 yaitu :

Artinya :

Dan kami berikan Zabur kepada Daud (Q.S. Al-Isra’ : 55)

Kitab Zabur, isinya mengandung beberapa doa, zikir, pengajaran dan hikmat. Hukum  agama dan syariat tidak ada didalamnya, karena Nabi Daud dalam sejarah kenabian, mengikuti dan menurut hukum yang ada dalam kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as.

3.   Kitab Injil

Kitab Injil ini diwahyukan Allah kepada Nabi Isa as. Putra Maryam. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah : 46

Artinya :

Dan kami telah memberikan kepadanya (Isa putra Maryam) kitab Injil. (Q.S. Al-Maidah :46).

                     Kitab Injil bertujuan menerangkan beberapa hukum dan mengajak manusia kembali kepada akidah tauhid yakni meyakini ke Esaan Allah dan kitab Injil berfungsi untuk memperbaiki agama Bani Israil yang telah kacau dan menyeleweng pada saat itu.

Allah menurunkan kitab Injil kepada Nabi Isa as. adalah untuk memberikan petunjuk dan cahaya yang menerangi ummat manusia pada saat itu. Kitab Injil juga membenarkan adanya kitab-kitab sebelumnya yaitu Taurat.

Penjelasan tersebut tercantum dalam Al-qur’an yang berbunyi :

Artinya :

Dan kami telah memberikan kepadanya (Isa Ibn Maryam) kitab Injil, sedang didalamnya (ada petunjuk dan cahaya yang menerangi) dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Maidah 46).

4.   Kitab Al-qur’an

Kitab Al-qur’an ini diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW pada dua tempat yaitu Makkah dan Madinah, selama ± 23 (dua puluh tiga) tahun. Oleh sebab itu ayat-ayat Al-qur’an ada yang disebut ayat Makkiyah dan Madaniyah.

Ayat Al-qur’an yang menjelaskan bahwa kitab Al-qur’an benar-benar diberikan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu sebagaimana disebutkan dalam  surat An-Naml ayat 6:

Artinya :

Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar diberi Al-qur’an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Q.S. An-Naml : 6)

Kitab Al-qur’an merupakan kitab terakhir bagi ummat manusia. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa Al-qur’an juga merupakan kitab penyempurnaan dari kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Dan setelah Al-qur’an ini tidak ada lagi kitab yang lain, karena Al-qur’an berlaku sampai akhir zaman.

Perumpamaan kitab-kitab yang pernah Allah turunkan kepada Rasul-rasul sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW dengan dipersenjatai Al-qur’an, adalah laksana sungai-sungai kecil yang airnya mengalir menuju satu aliran sungai besar, kemudian menuju ke samudera raya, yaitu Al-qur’an, kitab Allah yang terakhir.

Kitab suci Al-qur’an adalah memberikan ajaran-ajaran yang pernah tercantum dalam kitab-kitab terdahulu, kemudian melengkapi dan menyempurnakan serta mengganti ajaran-ajaran dari kitab-kitab yang turun sebelumnya, karena sudah mengalami penyelewengan dan perubahan-perubahan yang dilakukan oleh umat-umat terdahulu.

Oleh sebab itu Al-qur’an sebagai sumber keyakinan bagi kita bahwa kitab-kitab terdahulu (Taurat, Zabur, dan Injil) tidak ada lagi diatas dunia ini. Adapun yang dianggap orang sebagai kitab yang sekarang ini sudah tidak asli lagi, karena manusia telah menukar isinya dan mereka telah mencampur adukkan dengan buah pikiran mereka sendiri. Kita tidak dapat mengetahui mana-mana yang merupakan wahyu dari Allah dan mana-mana pula yang merupakan perkataan manusia.

Untuk itulah Allah menurunkan Al-qur’an kepada Nabi Muhammad SAW dengan membawa kebenaran yang pasti dan tidak meragukan serta menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Hal ini dejelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

Artinya :

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu (Q.S. An-Nisah : 105).

Artinya :

Kitab (Al-qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah : 2).

                     Tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa sampai saat ini bahkan sampai kapanpun tidak akan ditemui dan tidak mungkin ada pedoman lain yang setara dengan Al-qur’an. Ajaran yang terkandung dalam Al-qur’an adalah universal, tidak terbatas pada kurun waktu tertentu saja, tetapi berlaku untuk seluruh umat manusia sepanjang zaman.

Kita belum pernah mendengar adanya kitab suci yang mendapatkan penjagaan dan pemeliharaan seperti Al-qur’an. Al-qur’an sebagai bacaan berbahasa arab yang selalu dibaca oleh umat Islam diwaktu pagi, siang dan malam yang sedikitpun tidak pernah ditemui adanya cela. Al-qur’an yang ada sekarang ini masih seperti yang pernah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada 14 abad yang lalu, sedikitpun tidak pernah berubah.

Oleh sebab itulah ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya dapat dijadikan sebagai pedoman hidup bagi umat manusia, karena ajarannya mencakup semua dimensi kehidupan manusia dari mulai kehidupan jasmani sampai kehidupan rohani yaitu untuk menggapai kesejahteraan lahir dan batin, bahagia didunia dan bahagia diakhirat.

Disebut pedoman, karena ajaran Al-qur’an-lah yang dapat mengarahkan dan menunjukan umat manusia kepada jalan yang lurus yaitu jalan yang diridhai Allah SWT.

Saat ini banyak problema kehidupan yang menimpa umat manusia yang belum dapat bahkan tidak dapat diatasi, karena tidak mengindahkan peringatan yang ada didalam Al-qur’an. Misalnya munculnya berbagai penyakit yang belum diketemukan obatnya.

Bagaimana agar  umat manusia itu selalu berada pada jalan yang  benar ? maka ia harus selalu berpedoman kepada dua pusaka yaitu Al-qur’an dan As-Sunah sebagaimana sabda Nabi SAW :

Artinya :

Rasulullah Saw telah bersabda : Telah aku tinggalkan kepada kamu sekalian dua perkara, tidak akan sesat selama kamu sekalian berpegang teguh kepadanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. (H.R. Ibn Abdul Barri).

Bagaimana Cara Mencintai Al-Qur’an ?

Barang siapa mencintai sesuatu, maka ia tentu banyak menyebutnya, hal ini berarti diantara tanda-tanda sikap mencintai Al-qur’an sebagai kitab Allah adalah :

1.   Gemar Membacanya

Al-qur’an adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, membacanya bernilai ibadah. Untuk itu kita sebagai orang Islam hendaknya senantiasa gemar membaca Al-qur’an, baik diwaktu pagi, siang, maupun malam. Terutama ketika berada dirumah. Jangan sampai rumah sepi atau kosong dari bacaan Al-qur’an. Sebab rumah yang sepi atau kosong dari bacaan Al-qur’an menyebabkan rumah itu sedikit kebaikannya tapi banyak keburukannya. Sebagaimana sabda Nabi SAW :

Artinya:

Perbanyaklah membaca Al-qur’an dirumah-rumah kalian, karena rumah yang didalamnya tidak dibacakan Al-qur’an sedikit kebaikannya tapi banyak keburukannya. (H.R. Bukhari).

                     Kegemaran membaca Al-qur’an saat ini sudah mulai berkurang dan semakin terkikis, karena banyaknya pengaruh atau akibat dari dampak negatif media cetak dan elektronik serta canggihnya teknologi informasi dan telekomunikasi. Diantara kita sebagai orang Islam masih banyak yang lebih suka meluangkan waktu untuk nonton TV, main internet, dan Hand Phone dari pada membaca Al-qur’an. Kalau kebiasaan semacam ini kita tanamkan kepada keluarga kita, maka bisa jadi kita dan keluarga kita nanti akan semakin jauh dan asing dari Al-qur’an, padahal Al-qur’an sebagai kitab suci yang harus lebih kita cintai.

2.   Mengajarkannya Kepada Yang Lain

Mengajarkan Al-quran kepada orang lain adalah suatu tugas yang sangat mulia. Sebagai orang Islam yang mencintai Al-qur’an sebagai kitab sucinya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap Al-qur’an. Diantara kewajiban dan tanggung jawab tersebut adalah mengajarkannya kepada yang lain, terutama kepada anak-anaknya.

Sesungguhnya akan berdosa, jika orang tua membiarkan anak-anaknya tidak mau belajar Al-qur’an, sehingga mereka tidak bisa membaca Al-qur’an, dan akhirnya mereka menjadi buta akan Al-qur’an dan menjadi asing terhadap kitab sucinya.

Untuk itu sungguh bahagia sebagai orang tua yang pandai mengarahkan, membimbing, dan mengajari anak-anaknya menjadi anak yang fasih dan lancar membaca Al-qur’an, apalagi sampai dapat memahami dan mengamalkan isi kandungan Al-qur’an.

Sebagai orang tua, memang harus menanamkan kebiasaan untuk membaca dan mempelajari Al-qur’an kepada anak-anaknya. Setidak-tidaknya pada waktu-waktu tertentu, misalnya mulai masuk waktu maghrib sampai isya, televisi, komputer, dan Hand Phone tidak usah dinyalakan atau diaktifkan, tapi waktu yang sangat utama itu dipergunakan nuntuk shalat berjama’ah, membaca dan mendalami ayat-ayat Al-qur’an.

3.   Menjadikan Al-qur’an sebagai Pedoman Hidup.

Mengapa kita menjadikan Al-qur’an sebagai pedoman hidup ?

Kita sebagai umat Islam menjadikan Al-qur’an sebagai pedoman hidup karena :

a.   Al-qur’an dapat memberikan petunjuk (Hudan)

Petunjuk yang ada dalam Al-qur’an sifatnya adalah benar, kebenaran Al-qur’an bersifat mutlak dan absolut. Berbeda dengan kebenaran ilmiah bersifat nisbi dan relatif, benar saat ini belum tentu benar yang akan datang. Perhatikan Firman Allah sebagai berikut :

Artinya :

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang meragu. (Q.S. Al-Baqorah : 147).

Disamping itu, petunjuk yang ada dalam Al-qur’an sifatnya adalah pasti, tidak meragukan, lurus, tidak cacat, konsisten dan tidak menyesatkan. Lihat Q.S. Al-Baqarah : 2, Al-Kahfi : 1, Al-Isra : 9 dan Al-Fatihah : 6.

Disamping itu juga, bahwa petunjuk yang ada dalam Al-qur’an sifatnya adalah jelas, terang, gamblang, dan tidak membingungkan. Al-qur’an bukan sekedar jelas bahkan memperjelas dan berfungsi sebagai penjelas.

Memang sesuatu yang jelas kadangkala bisa menjadi tidak jelas, antara lain disebabkan oleh tendensi-tendensi tertentu. Seandainya dirasa masih kurang jelas, maka As-Sunah-lah sebagai petunjuk operasionalnya.

b.   Al-qur’an dapat memberikan cahaya (nur)

Fungsi utama cahaya itu adalah menerangi dan menyinari. Tanpa  cahaya dan sinar, penglihatan tidak mempunyai arti apa-apa, tidak jelas, apakah jalan itu lurus, menukik, terjal, menanjak atau berlubang, sebaliknya bila jalan itu berlubang atau membahayakan maka jalan itulah yang mesti diperbaiki, bukan cahaya atau sinarnya yang harus dirubah, diganti, atau disesuaikan.

Untuk itulah, Al-qur’an adalah benar-benar cahaya yang mampu menerangi hidup dan kehidupan umat manusia.

Perhatikan firman Allah berikut :

Artinya :

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-qur’an). (Q.S. An-Nisak : 174).

c.   Al-qur’an dapat memandu jalan hidup manusia untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup didunia dan akhirat. Karena petunjuk yang berasal dari Al-qur’an adalah petunjuk yang benar. Dan kebenaran yang berasal dari Al-qur’an adalah kebenaran yang hakiki bukan kebenaran yang nisbi.

Untuk itu sudah sepantasnya umat Islam menjadikan Al-qur’an sebagai pedoman hidup dalam segala aspek hidup dan kehidupan. Sebagaimana sabda Nabi SAW :

Artinya :

Barang siapa yang membaca Al-qur’an, lalu membuktikannya dengan menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga.

 v   Rangkuman :

1.   Salah satu rukun Iman yang enam yaitu iman kepada kitab-kitab Allah. Kitab-kitab Allah yang wajib kita imani yaitu kitab Taurat (Nabi Musa), kitab Zabur (Nabi Daud), kitab Injil (Nabi Isa) dan Al-qur’an (Nabi Muhammad).

2.   Diantara tanda-tanda mencintai Al-qur’an adalah  :

a.   Gemar membacanya.

b.   Belajar dan mengajarkannya kepada yang lain.

c.   Menjadikan Al-qur’an sebagai pedoman hidup.

 

Written by

Filed under: Iman Kepada Kitab Allah · Tags: , ,

Leave a Reply

*